LAHAT — Era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai masuk lebih serius ke dunia pendidikan Sumatera Selatan. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sumatera Selatan meluncurkan program pelatihan AI dan coding bagi guru SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA.
Menariknya, Kabupaten Lahat dipilih sebagai lokasi launching perdana program tersebut, Senin (21/9/2026).
Program ini menjadi bagian dari langkah PGRI Sumsel untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat.
Launching dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Lahat, Widya Ningsih, S.H., M.H., didampingi Kepala Dinas Pendidikan Lahat, H. Niel Aldrin, S.E., M.AP.
Hadir pula Ketua PGRI Kabupaten Lahat, Dr. Hasperi Susanto, S.Pd., M.M., beserta jajaran. Dari PGRI Sumsel hadir Ketua PGRI Sumsel Assoc. Prof. Dr. H. Bukman Lian, M.M., M.Si., Sekretaris Umum Drs. Hery Amirul, M.M., Wakil Ketua III Assoc. Prof. Dr. Dessy Wardiah, M.Pd., Bendahara Dr. Hetilaniar, M.Pd., serta Ketua PSLCC PGRI Provinsi Sumsel, Dr. Widya Handayani, M.Si.
Pelatihan menghadirkan narasumber Dr. Arini Fousty Badri, S.Pd., M.T.
Ketua PGRI Sumsel Bukman Lian menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan teknologi. Lahat, kata dia, menjadi titik awal gerakan peningkatan kompetensi digital guru yang nantinya akan diteruskan ke seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.
«“Lahat bukan sekadar tempat pelaksanaan kegiatan. Lahat menjadi titik awal sebuah gerakan. Insya Allah, setelah launching perdana ini, program serupa akan diteruskan oleh seluruh pengurus PGRI di seluruh kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Selatan,” ujar Bukman.»
Guru Tak Harus Jadi Programmer
Menurut Bukman, perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat dunia pendidikan tidak bisa berjalan dengan pola lama. Guru perlu memahami teknologi agar tidak hanya mampu menggunakannya, tetapi juga membimbing peserta didik dalam memanfaatkannya secara tepat.
Namun, ia menekankan bahwa guru tidak harus menjadi programmer untuk menghadapi era AI.
«“Guru tidak harus menjadi programmer, tetapi guru harus memiliki literasi digital dan pemahaman teknologi agar mampu membimbing peserta didik menghadapi perubahan zaman.”»
Sebab, anak-anak saat ini tumbuh bersama internet, media sosial, berbagai aplikasi digital hingga teknologi kecerdasan buatan.
Kondisi tersebut membuat tugas guru semakin luas. Guru bukan hanya dituntut menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk kemampuan peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, kreatif, etis, dan bertanggung jawab.
AI Bukan untuk Menggantikan Guru
Bukman juga menepis kekhawatiran bahwa kehadiran AI akan menghilangkan peran guru.
Menurutnya, AI justru dapat menjadi alat yang membantu guru menjalankan tugas profesionalnya.
Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu menyiapkan bahan ajar, merancang pembelajaran, mengembangkan asesmen dan berbagai kebutuhan pembelajaran lainnya.
«“AI bukan untuk menggantikan guru. AI adalah alat untuk membantu dan memperkuat guru.”»
Namun, ia mengingatkan ada hal yang tidak dapat begitu saja digantikan teknologi.
Keteladanan, kepedulian, pembentukan karakter, motivasi dan sentuhan kemanusiaan tetap menjadi bagian penting dari pendidikan.
«“Prinsip kita jelas: AI membantu guru, bukan menggantikan guru. Teknologi memperkuat pendidikan, bukan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.”»
Bukman yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas PGRI Palembang itu berharap program tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial atau sekadar menghasilkan sertifikat.
Ia ingin pelatihan benar-benar berdampak terhadap proses belajar mengajar di sekolah.
«“Keberhasilan workshop bukan hanya sertifikat yang kita bawa pulang. Keberhasilannya adalah ketika ada guru yang mulai menggunakan AI secara bijak, mulai mengenalkan coding dalam pembelajaran, menciptakan media pembelajaran baru, dan akhirnya memberikan pengalaman belajar yang lebih kreatif dan relevan bagi peserta didik.”»
Dari Lahat untuk Guru se-Sumsel
Pesan lain yang disampaikan Bukman adalah agar guru tidak merasa terlambat untuk mempelajari teknologi.
Ia mengajak para guru untuk memiliki semangat belajar sepanjang hayat.
«“Kalau belum memahami coding, mari belajar. Kalau belum memahami AI, mari mencoba. Kalau belum tahu, mari bertanya.”»
Menurutnya, seorang guru tidak dituntut mengetahui segala hal. Yang lebih penting adalah memiliki kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.
«“Guru yang hebat bukanlah guru yang mengetahui segala sesuatu, tetapi guru yang tidak pernah berhenti belajar.”»
Launching di Lahat ini sekaligus menjadi penanda dimulainya program pelatihan AI dan coding PGRI Sumsel yang akan diperluas ke kabupaten dan kota lainnya.
Dari Lahat, PGRI Sumsel ingin membawa satu pesan: teknologi boleh berubah cepat, tetapi guru harus tetap menjadi manusia yang membimbing manusia.



