![]() |
LAHAT — Musim kemarau yang melanda Kabupaten Lahat kembali meninggalkan luka lama bagi warga Kecamatan Merapi Timur. Saat sumur-sumur warga mulai kering kerontang, upaya mandiri untuk mencari air bersih justru berujung pada ancaman baru: air sumur bercampur karat pekat hingga tercemar minyak mentah.
Bagi warga Desa Banjar Sari, air bersih kini telah menjadi barang mewah. Di tengah teriknya kemarau, menggali tanah lebih dalam demi mendapatkan setetes air bukan lagi solusi, melainkan pertaruhan kesehatan yang membahayakan.
"Kami mencoba menggali sumur karena sumber air sangat sulit. Tapi kondisi airnya kuning dan berkarat. Malah kalau galiannya dibuat makin dalam, yang keluar bukan air bersih, tapi justru bercampur minyak," ungkap Bastomi, warga desa Banjar Sari.
Kondisi geologis wilayah yang berdampingan dengan aktivitas pertambangan dan kantong energi membuat upaya pengeboran mandiri menjadi jalan buntu. Air yang keluar tidak hanya berbau dan tidak layak konsumsi, tetapi juga berisiko merusak kesehatan keluarga jika terus digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Krisis tahunan ini membuat kesabaran warga mencapai puncaknya. Solusi darurat seperti droping air bersih dinilai hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar masalah. Masyarakat kini satu suara: mendesak Pemerintah Kabupaten Lahat dan pihak terkait untuk segera memperluas jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) hingga ke pelosok Merapi Timur.
Bagi warga, kehadiran infrastruktur PDAM bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan mutlak demi keselamatan hidup. Tanpa intervensi nyata berupa jaringan air bersih yang higienis dan terstandarisasi, warga Merapi Timur akan terus hidup dalam bayang-bayang krisis air bersih di setiap musim kemarau.
Kini, bola panas berada di tangan pemerintah daerah. Warga berharap jeritan dari Merapi Timur segera dijawab dengan tindakan konkret sebelum krisis kesehatan benar-benar meledak di tengah masyarakat (*)
Purwanto/ Lahat Info



