LAHAT — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, mulai menjadi perhatian dunia pendidikan. Bukan tanpa alasan, sepanjang Agustus 2026 tercatat sedikitnya 34 kejadian kebakaran lahan kosong maupun perkebunan warga di wilayah tersebut.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan orang tua peserta didik, terutama apabila kebakaran kembali terjadi dan asap mulai menyelimuti kawasan permukiman serta lingkungan sekolah.
Sejumlah wilayah disebut memiliki tingkat kerawanan Karhutla yang perlu mendapat perhatian, di antaranya Kecamatan Merapi, Gumay Ulu dan Kecamatan Lahat.
Data 34 kejadian tersebut disampaikan Wakil Bupati Lahat Widia Ningsih dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla bersama Tim Penyuluh Mabes TNI dan Perwira Siswa (Pasis) Seskoad Tahun 2026 di Pendopoan Bupati Lahat, Selasa, 1 September 2026.
Di tengah ancaman tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lahat mulai melakukan pemantauan terhadap kondisi sejumlah sekolah, terutama sekolah yang berada di wilayah terdampak.
Sekretaris Disdikbud Lahat, Dr. Baslini, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi di lapangan untuk memastikan kabut asap tidak sampai mengganggu proses pembelajaran.
Menurut Baslini, hingga saat ini kondisi kabut asap yang terpantau di sejumlah titik belum terlalu tebal. Karena itu, aktivitas pembelajaran masih dapat berjalan seperti biasa.
Namun, Disdikbud Lahat tidak menutup kemungkinan mengambil langkah lebih jauh apabila kondisi udara memburuk.
Jika kabut asap semakin tebal hingga mengganggu proses belajar mengajar, sekolah dapat diliburkan sebagai langkah antisipasi.
Hal ini menjadi perhatian karena dampak Karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Kabut asap yang masuk ke kawasan sekolah juga berpotensi mengganggu kenyamanan dan keamanan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.
Terlebih, angka 34 kejadian kebakaran dalam satu bulan menunjukkan bahwa ancaman Karhutla di Lahat belum bisa dianggap sepele.
Pemerintah daerah bersama TNI-Polri, Manggala Agni, pemerintah kecamatan dan desa serta perusahaan juga terus memperkuat upaya pencegahan agar kebakaran tidak meluas.
Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu langkah penting, khususnya untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar.
Bagi dunia pendidikan, perkembangan Karhutla kini menjadi persoalan yang harus terus dipantau. Disdikbud Lahat dituntut memastikan kegiatan belajar tetap berjalan, namun pada saat yang sama keselamatan dan kenyamanan peserta didik harus menjadi prioritas.
Untuk sementara, sekolah-sekolah masih beraktivitas normal. Tetapi jika kabut asap semakin tebal dan mulai mengganggu pembelajaran, opsi meliburkan sekolah siap dipertimbangkan.
Kini perhatian tertuju pada perkembangan Karhutla di Lahat. Apakah angka 34 kejadian sepanjang Agustus hanya menjadi peringatan, atau justru akan berkembang menjadi ancaman serius bagi aktivitas pendidikan jika kabut asap kembali memburuk?



